Senin, 13 Juni 2011

Dinamika Global dalam Negara Indonesia

Berdirinya Indonesia tidak bisa terlepas dari islamisme, komunisme dan nasionalisme global, yang sangat mempengaruhi Indonesia saat itu. Gagasan Pan-Islamisme muncul dari Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Fahrul Razi setelah runtuhnya kekaisaran Ottoman Turki akibat kekalahannya pada Perang Dunia Pertama. Revolusi Bolshevik terjadi di Rusia, yang meruntuhkan Kerajaan Rusia dan memunculkan negara komunis pertama di dunia, USSR. Lenin berhasil mengaktualisasikan gagasan Karl Marx dalam bentuk pergerakan kaum proletar. Nasionalisme China dibawah inisiatif dr. Sun Yat Sen dan bangkitnya negara industri baru Jepang membangkitkan semangat bangsa-bangsa di Asia, dimana selama dua abad terakhir berada di bawah bayang-bayang bangsa Eropa.

Masing-masing gagasan ini memiliki penganut yang kuat di Indonesia saat itu. Islamisme didukung oleh "Serekat Islam". Komunisme didukung oleh ISDV, yang tadinya merupakan bagian dari "Serekat Islam", dan kemudian berdiri sendiri menjadi "Partai Komunis Indonesia". Nasionalisme didukung oleh "Partai Nasionalis Indonesia", yang lekat dengan simbol Soekarno. Ketiga kekuatan ini saling mendukung dan saling bersaing dalam membentuk satu kesatuan Negara Indonesia.


Setelah merdeka pun, Indonesia adalah negara yang sangat terbuka terhadap ideologi-ideologi yang mendominasi dunia serta dinamikanya saat itu. Perang Arab Israel mendorong munculnya pemberontakan Darul Islam dengan Tentara Islam Indonesianya. Hal ini terjadi karena umat Islam di Indonesia merasa terkhianati oleh gerakan nasionalis, sama seperti yang dialami oleh umat Islam di Palestina. 

Ketika terjadi perang dingin, pengaruh Blok Barat dan Timur juga sangat terasa di Indonesia. Menyadari hal itu, Presiden Soekarno kemudian berinisiatif mendirikan gerakan non blok. Gerakan ini bisa dibilang sebuah gerakan dari negara-negara oportunis. Mereka tidak ingin kehilangan dukungan dari salah satu blok, karena kedua blok saat itu sama-sama kuat. Ketika masa perang dingin memanas, Soekarno untuk pertama kalinya mengunjungi Amerika Serikat yang saat itu dipimpin oleh J. F. Kennedy. Padahal sejak awal Soekarno sangat mengecam Amerika Serikat sebagai negara kapitalis imperialis. Di saat yang sama juga, kedekatan Soekarno dengan President Nikita Kruschev semakin erat. Bahkan ketika USSR mengungguli USA saat mengirimkan Yuri Gagarin ke Orbit Bumi, Indonesia merayakannya dengan memberikan anugerah "Bintang Maha Putra" kepada Yuri Gagarin. Dan puncak dari tarik menarik kepentingan Blok Timur dan Barat adalah ketika muncul peristiwa G 30S PKI. Militer dan islam menjadikan momentum ini untuk menumpas komunisme. Kedudukan militer merasa terancam oleh komunisme akibat adanya isu angkatan kelima yang terdiri dari buruh dan tani. Umat islam merasa khawatir terhadap komunisme yang dianggap berusaha menghapus tatanan agama di Indonesia, khususnya Islam.

Namun ketika Presiden Soeharto memimpin Indonesia, pengaruh-pengaruh dinamika global di Indonsia bisa ditekan. Meskipun saat itu sebenarnya Indonesia lebih condong ke Barat setelah hancurnya citra komunisme di Indonesia akibat peristiwa G 30S PKI, sehingga peristiwa Perang Vietnam terasa tidak memiliki pengaruh apa-apa selain masuknya gelombang pengungsi dari Vietnam Selatan ke Pulau Galang, Kepulauan Riau. Saat zaman Soeharto Indonesia seperti memiliki sikap tersendiri terhadap desakan-desakan kepentingan global yang ada saat itu. Status Timor-Timur dan Papua-Barat sebagai bagian dari Indonesia sangat dipegang teguh meskipun status tersebut terus dipertanyakan oleh berbagai pihak Barat seperti USA dan Australia. Peristiwa Revolusi Iran hanya bisa sebagai bahan penyemangat umat Islam di Indonesia saja, daripada dijadikan pedoman pergerakan kebangkitan Islam. Perang Libanon Suriah, Perang Sipil di Irlandia Utara, Perang Malvinas, Perang Irak-Iran, Perang Teluk dan Perang Etnis di negara bekas Yugoslavia hanya menjadi topik pembicaraan masyarkat saja. Semuanya berhasil ditekan oleh Pemerintahan Soeharto demi terjaganya stabilitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.


Krisis keuangan Asia pada tahun 1997 diiringi dengan krisis politik pada tahun 1998 di Indonesia. Hal ini memaksa Presiden Soeharto untuk turun tahta dan kemudian digantikan oleh B.J. Habibie. Krisis politik yang menghantam Indonesia saat itu membuat Indonesia menjadi fokus perhatian dunia. Ketidakstabilan politik menyebabkan perekonomian Indonesia sangat sulit untuk membaik. Hal tersebut juga mengakibatkan terjadinya peristiwa kerusuhan dengan latar belakang etnis dan agama. Kemudian pada tahun 2001 terjadi peristiwa pengeboman terhadap Menara Kembar WTC di New York, yang memulai sentimen Anti Islam di Barat dan reaksi Anti-Barat di dunia Islam. Hal ini utamanya dipicu oleh konflik Palestina Israel yang dianggap tidak adil, serta pengabaian dari negara-negara Muslim terhadap masalah tersebut. Namun dalam menyebarkan doktrinnya, gerakan islam radikal bukan hanya mengekspos ketidakadilan terhadap Palestina saja, namun juga tekanan Rusia terhadap Checnya, konflik umat Islam dan Hindu di India serta kerusuhan etnis di Indonesia. Setelah kejadian WTC tersebut, USA kemudian melakukan operasi militer ke Afganistan dan Irak, dengan maksud ingin mencegah peristiwa-peristiwa terorisme di masa yang akan datang. Di Indonesia kemudian terjadi aksi pengeboman yang mengatasnamakan islam, seperti yang terjadi juga di beberapa negara lainnya seperti di Inggris, Turki, Yaman, Israel dan lain-lain, entah sebagai bentuk dukungan atau ingin menjadi bagian dari perang besar Islam vs Barat. Hampir setiap tahun terjadi pengeboman yang menargetkan tempat-tempat yang dianggap didominasi oleh orang Barat.

Lambat laun, pertarungan antara kepentingan barat di Indonesia melawan gerakan Islam radikal ini kemudian beralih menjadi gerakan Islam radikal melawan negara, terutama kepolisian. Akhirnya gerakan Islam radikal ini bersifat lebih lokal, dibandingkan sebelumnya yang sangat dipengaruhi oleh suasana global. Di negara-negara arab yang mayoritas muslim sendiri, saat ini mengalami euforia demokratisasi. Sungguh hal yang ironis dimana sebelumnya semangat Anti Barat dengan demokrasinya sangat keras diteriakkan di situ. Namun sepertinya Bangsa Arab telah menyadari musuh sebenarnya dari keterpurukan mereka, yakni pemerintahan yang korup. Memang lebih mudah untuk mengidentifikasi musuh-musuh yang tampak berbeda daripada yang terlihat sama. Gerakan yang didukung oleh jejaring sosial ini cukup berpengaruh di Indonesia, namun tidak sampai menjadi gerakan massif seperti di Arab, dikarenakan secara prosedural Indonesia telah demokratis. Masyarakat melihat yang lebih perlu dibenahi saat ini adalah moral para pejabat dibandingkan memperbaiki sistem yang ada. Masyarakat sudah tidak punya sistem alternatif lain lagi selain demokrasi yang amburadul saat ini. Islamisme telah melemah dan komunisme sudah tidak populer lagi dalam wacana global, sedangkan nasionalisme telah mengalami pengaburan makna.

Kejadian-kejadian yang telah lalu tersebut menegaskan bahwa Bangsa Indonesia seharusnya melakukan penegasan kembali terhadap ideologi bangsa ini, Pancasila. Pancasila sering tercampur dengan gagasan-gagasan dari luar lainnya seperti Islamisme (dinamika dan perkembangannya), komunisme dan kapitalisme. Mungkin sebagian besar dari rakyat Indonesia kesulitan untuk menjelaskan apa Pancasila itu. Mungkin rumusan Pancasila terlalu abstrak untuk diaktualisasikan. Apabila Pancasila sebagai ideologi Indonesia benar-benar telah terumuskan dengan baik, maka seharusnya tidak terjadi kesalahpahaman dalam memaknai ideologi ini. Pancasila seharusnya memiliki standar tindakan dan kebijakan tertentu seperti dalam ideologi-ideologi lainnya. Standar ini dapat menentukan sikap Bangsa Indonesia dalam situasi global saat ini. Bila memang Pancasila belum bisa dirumuskan dan ditegaskan, maka mari hendaknya kita memikirkan basis ideologi yang lain, yang lebih Indonesia.

The establishment of Indonesia cannot be separated from Islamism, communism and global nationalism, which greatly affect Indonesia at that time. The idea of ​​Pan-Islamism emerged from Jamaluddin Al-Afghani, Rashid Rida and Fahrul Razi after the collapse of the Ottoman Empire of Turkey due to its defeat in the First World War. Bolshevik Revolution occurred in Russia, which undermined Russian Empire and led to the world's first communist state, the USSR. Lenin successfully actualizes the ideas of Karl Marx in the form of movement of the proletariat. Chinese nationalism under the initiative of dr. Sun Yat Sen and the rise of newly industrialized countries of Japan arouse the spirit of the nations in Asia, where over the last two centuries was under the shadow of European nations.


Each of these ideas had a strong adherent in Indonesia at that time. Islamism is supported by "Serekat Islam.” Communism is supported by ISDV, which formerly was part of "Serekat Islam", and then stand alone to be "Communist Party of Indonesia”. Nationalism is supported by "Indonesian Nationalist Party", which is attached to the symbol of Soekarno. These three forces were supporting and competing with each other in establishes the unity state of Indonesia.



After independence, Indonesia remains become a country that was open to ideologies that dominated the world and its dynamics at the time. Israel Arab War encouraged the emergence of the Darul Islam rebellion by Indonesian Islamic Army. This rebellion occurred because the Muslims in Indonesia feel betrayed by the nationalist movement, as experienced by Muslims in Palestine.


When the cold war, Western and Eastern Block influence is also felt in Indonesia. Realizing this, President Sukarno took the initiative to establish a non-block movement. This movement can be regarded as movement of opportunist countries. They do not want to lose the support of one block, because the two blocks were equally strong. When the cold war heated up, Sukarno for the first time visited the United States which was led by JF Kennedy. Yet since the beginning Sukarno highly criticized the United States as a imperialist capitalist state. At the same time, the closeness of Soekarno with President Nikita Khrushchev more increased. Even when the Soviet Union beat the United States in "Space War", by successfully sent Yuri Gagarin into the Earth orbit, Indonesia celebrate it by giving the grace of "Bintang Maha Putra" for Yuri Gagarin. The peak of feud between the influence of the East Block and West Block in Indonesia is the events of G 30S PKI. This incident is considered as a perfidy of the communists against the ideology of Pancasila. Military and Islam makes this momentum to eliminate communism. Military position is threatened by communism with the issue of the fifth armed forces of labor and farmers. Muslims considered communism tried to eliminate religious order in Indonesia, particularly Islam.



But when President Suharto led Indonesia, the effects of global dynamics in Indonesia can be suppressed. Indonesia is actually more inclined to the West after the collapse of communism in the image of Indonesia because the G events of 30S PKI. In the Suharto era, Indonesia had its own attitude to the pressure of global importance at the time. The status of East Timor and West Papua, as part of Indonesia held firmly, despite its status continues to be questioned by the Western countries like the United States and Australia. Iranian Revolution cannot encourage the movement of Islamic revival in Indonesia. Lebanon-Syria War, Civil War in Northern Ireland, the Falklands War, Iraq-Iran War, Gulf War and Ethnic War in the countries of the former Yugoslavia cannot influence the movement and alternative ideas in Indonesia. These are successfully suppressed by the Suharto government for the sake of stability to promote economic growth.



The Asian financial crisis followed by a political crisis in 1998 in Indonesia. This forced President Suharto to abdicated and replaced by BJ Habibie. The political crisis that hit Indonesia at that time made Indonesia become the focus of world attention. Political instability caused the Indonesian economy very difficult to improve. It also resulted in the occurrence of riots with ethnic and religious backgrounds. Later in the year 2001 there was the bombings of the WTC Twin Towers in New York, which started the Anti-Islamic sentiment in the West and anti-Western reaction in the Islamic world. This was mainly triggered by the Israeli Palestinian conflict which is considered unfair, and neglected of the Muslim countries to this problem. However, in spreading the doctrine, the radical Islamic movement not only expose the injustices against the Palestinians, but also Russian pressure on Chechnya, conflicts of Muslims and Hindus in India as well as ethnic riots in Indonesia. After the WTC event, the USA conducted military operations to Afghanistan and Iraq to prevent terrorism in the future. This military operations responded by bombings in the name of Islam in Indonesia, as happened also in some other countries like the UK, Turkey, Yemen, Israel and others, either as a form of support or want to be part of a major war of Islam vs. the West. Almost every year the terrorist bombings targeted the places considered as USA interest in Indonesia.



Gradually, the struggle of radical Islamic movement against Western interests in Indonesia was later turned into a radical Islamic movement against the state, especially the police. Finally, this radical Islamic movement is more local, than ever before, which was strongly influenced by the global atmosphere.
Now Arab countries, with majority of Muslims, are currently experiencing the euphoria of democratization. It is ironic, that previously the spirit of Anti-Western and anti-democratic shouted very loudly in there. But the Arabs seem have been realize their real enemy, which is the corrupt government. This movement that was supported by social networking, is quite influential in Indonesia, but cannot be a massive movement because Indonesia considered has been procedurally democratic. Society considers the current that must be corrected is the morale of the officials rather than fix the existing system. Society has no better alternative system than democracy. Islamism has been weakened and communism is no longer popular in the global discourse, while nationalism has undergone blurring of meaning.

These events were emphasized that the Indonesian nation should do a reaffirmation of the ideology of this nation, Pancasila. Pancasila is often blended with ideas from outside such as Islamism (the dynamics and its development), communism and capitalism. Probably most of the people of Indonesia are hard to explain what Pancasila is. Perhaps the formulation of Pancasila is too abstract to be actualized. If the Pancasila, as the ideology of Indonesia, have actually been formulated properly, then it should be no misunderstandings over the meanings of this ideology. Pancasila should have certain standards of conduct and policies as in other ideologies. This standard can determine the attitude of Indonesian nation in the current global situation. If it cannot be formulated and affirmed, then let's think of other ideological base, more Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar