Minggu, 16 Oktober 2011

Lombok Tempo Dulu


Zaman Majapahit
Tidak ada catatan yang jelas sejak kapan Pulau Lombok dihuni oleh manusia. Selain itu bukti-bukti peradaban zaman purba di Pulau Lombok sangat minim. Namun pada abad ke 14, terdapat bukti bahwa Lombok telah memiliki hubungan dengan Jawa. Hal ini tercantum dalam kitab Nagarakertagama yang ditulis pada tahun 1365 M oleh Mpu Prapanca. Dalam kitab yang berbahasa jawa kuno itu, diceritakan secara singkat tentang Lombok Mirah dan Sasak Adi. Dalam pupuh ke 14 tertulis sebagai berikut:

“Muwah tang I Gurunsanusa ri Lombok Mirah lawantikang Sasak Adi nikalu kebayian kabeh Muwah tanah I Bantayan Pramuka Bantayan len Luwuk teken Udamakatrayadhi nikayang sanusa pupul.”


Kerajaan Selaparang, yang terletak di Lombok Timur, kemungkinan adalah salah satu kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Masyarakat yang ada di daerah Bayan dan Sembalun, yang terletak di utara Lombok, percaya bahwa mereka adalah keturunan orang Majapahit. Sebagian masyarakat Sasak dan para tetua percaya bahwa Gadjah Mada meninggal di Selaparang, dimana makamnya di daerah tersebut masih ramai dikunjungi para peziarah. Benar atau tidaknya masih menjadi perdebatan, namun hal ini merupakan salah satu bukti bahwa ekspedisi Gadjah Mada yang ingin menyatukan Nusantara mencakup juga Pulau Lombok.

Minimnya informasi mengenai Lombok pada zaman tersebut mempersulit untuk mengetahui bagaimana bentuk kegiatan masyarakat Lombok saat itu. Namun ada yang berpendapat bahwa masyarakat Lombok asli pada saat itu menganut kepercayaan yang dinamakan Bodha. Ada dua pendapat menganai apa itu Bodha. Ada sebagian ahli yang berpendapat bahwa Bodha adalah sebuah kepercayaan animisme murni yang masih percaya terhadap roh-roh nenek moyang. Salah satu buktinya adalah ungkapan masyarakat Sasak “Nenek” yang berarti “Tuhan”. Para tetua juga sering mengekspresikan perasaan emosional dengan kata-kata “Nenek kaji” yang berarti “Oh Tuhanku”. Ada juga beberapa ahli mengatakan bahwa Bodha tersebut adalah salah satu aliran dari sembilan aliran hindu yang berkembang pertama kali di Bali, yakni Pasupata, Bhairawa, Siwa Shidanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora and Ganapatya.

Zaman Masuknya Islam

Berdasarkan catatan yang ada, Islam masuk ke Lombok pada awal abad ke enam belas. Ada berbagai cerita atau legenda yang terkait dengan masuknya Islam ini, namun setiap legenda berbeda sehingga sangat sulit untuk melihat gambaran utuhnya. Namun menurut Marisson (1999) kemungkinan perbedaan ini mencerminkan asal-usul diversifikasi islam di Lombok. Ada yang berpendapat Islam masuk melalui Jawa, ada yang mengatakan melalui Bangsa Melayu, Bugis, Sumbawa dan bahkan ada yang mengatakan berasal dari pedagang Arab langsung. Tampaknya semua pendapat tersebut benar, namun berdasarkan bukti yang ada islam pertama kali dibawa memang oleh Orang Jawa.

Berdasarkan Babad Lombok, Islam masuk ke Lombok dibawa oleh Sunan Prapen, yang merupakan anak, atau pengikut Raden Paku yang terkenal dengan julukan Sunan Giri, yang berasal dari Gresik. Sunan Prepen memaksakan Islam masuk ke Lombok dengan kekuatan militer. Namun hal ini kurang membuahkan hasil, dimana para permpuan bersikukuh dengan keyakinan lama mereka, sedangkan para pemimpin adat atau suku yang tidak suka dengan situasi ini memindahkan pusat pemerintahan dari pantai utara (Bayan) ke Selaparang. Setelah kurang berhasil di Lombok, Sunan Prapen melanjutkan misinya ke Sumbawa dan Bima. Sepulangnya dari Sumbawa dan Bima, Sunan Prapen mampir lagi ke Lombok dan menyebarkan Islam lagi. Kali ini usahanya lebih berhasil. Salah satu peninggalannya adalah Masjid Belek (Masjid Besar) yang ada di Bayan. H.J. de Graff (1941) mengaitkan misi Sunan Prapen ini dengan misi militer Sultan Trenggono dari Demak yang berkuasa pada tahun 1521 sampai 1550 M. Sultan Trenggono mengirim misi menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara termasuk ke daerah timur. Memang terdapat kemiripan antara tradisi Islam Sasak dengan Islam tradisional di daerah Jawa Timur seperti Gresik, Pasuruan, Banyuwangi dan Madura.
Versi yang lain tentang masuknya Islam di Lombok adalah misi Pangeran Sangupati, yang diceritakan dalam tulisan atau babad berjudul Pangeran Sangupati. Beliau membawa Islam mistik sinkritisme dari Jawa. Islam berbau sufi ini kemudian dikaitkan oleh beberapa ahli sebagai asal-usul kepercayaan waktu telu. De Graff berpendapat bahwa Pangeran Pasupati ini berasal dari Bali. Pangeran Pasupati sendiri di setiap daerah memiliki nama yang berbeda diantaranya Aji Duta Semu (Jawa), Pedanda Wau Rauh (Bali) dan Tuan Semeru (Sumbawa).

Terdapat legenda lain yang tertera dalam babad yang berjudul Nur Sada. Legenda ini menceritakan bahwa pada zaman dahulu di Lombok terdapat seorang bijak bernama Said Mu’min yang memiliki dua orang anak yakni Nur Cahya dan Nur Sada. Nur Cahya mengikuti kepercayaan Waktu Lima, sedangkan Nur Sada mengikuti kepercayaan Waktu Telu. Nur Cahya dengan kepercayaannya tidak pernah memperoleh kebahagiaan, sedangkan Nur Sada selalu diperkati dan tidak pernah menderita. Akhirnya masyarakat Lombok mengikuti kepercayaan Nur Sada karena menurut mereka lebih sesuai dengan kebutuhan dan temperamen masyarakat Sasak.

Zaman Penjajahan Karangasem

Sejak masuknya Islam, muncul beberapa pusat kebudayaan di Lombok, yang sebagian berkembang menjadi kerajaan, diantaranya adalah Bayan dan Sembalun di utara, Selaparang di timur, Purwadadi dan Sakra di Tenggara dan Pejanggik (atau Praya) di daerah tengah bagian selatan. Pusat-pusat kebudayaan tersebut seluruhnya telah beragama Islam. Meskipun terdapat beberapa pusat kebudayaan tersebut, namun kekuatan politik saat itu terpusat di Selaparang dan Pejanggik. Sejak awal abad ke 17 Lombok telah menjadi perebutan kerajaan-kerajaan besar disekitarnya. Perebutan tersebut terjadi antara Kerajaan Gelgel dari Bali dengan Kerajaan Gowa dari Makassar yang dibantu oleh Kerajaan Sumbawa yang berada di bawah pengaruh Gowa. Pada tahun 1603 Lombok dapat dikuasai oleh Gelgel, namun pada tahun 1640 Lombok direbut oleh Gowa.

Pada tahun 1723 Raja Selaparang meminta bantuan Karangasem, Bali untuk menghadapi serangan dari Sumbawa. Pada Babad Lombok juga diceritakan bahwa seorang patih bernama Banjar Getas melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Selaparang dengan dibantu oleh Kerajaan Karangasem, karena sakit hati istrinya direbut oleh Raja Selaparang. Pada tahun 1740 Raja Pejanggik yang kemudian menjadi Praya juga meminta bantuan Karangasem, Bali, yakni Ratu Gede Ngurah, dari usaha kudeta yang ingin dilakukan oleh seorang pangeran. Karena sering meminta bantuan Kerajaan Karangasem, akhirnya sejak saat itu Lombok berada dibawah pengawasan Kerajaan Karangasem. Lambat laun akhirnya kerajaan-kerajaan Sasak yang ada di Lombok dipaksa untuk mengakui kekuasaan Karangasem serta dimintai upeti. Untuk memperkuat kekuasaannya atas Lombok, Kerajaan Karangasem melakukan pendekatan-pendekatan kultural, diantaranya dengan mendukung kepercayaan waktu telu yang lebih toleran terhadap orang non muslim (Hindu) dibandingkan dengan waktu lima. Selaparang yang tidak setuju dengan intervensi Karangasem ini kemudian memilih untuk mendekat ke Kerajaan Sumbawa di masa pemerintahan Sultan Muhammad Kaharuddin II (1795-1816).

Pada tanggal 5 April 1815, Gunung Tambora di Dompu, Sumbawa, meletus dan memuntahkan debu vulkanik dalam jumlah yang sangat masif. Abu Gunung Tambora ini menutupi hampir seluruh atmosfir bumi termasuk Eropa. Debu Gunung Tambora ini bertahan di atmosfir sampai tahun 1816, sehingga tahun 1816 dikenal dengan istilah “the year without a summer” oleh orang Eropa. Pulau Lombok yang bertetangga dengan Sumbawa juga tidak dapat terhindari dari bencana vulkanis ini. Berdasarkan catatan Crawfurd yang ditulis pada tahun 1856:
“Rasanya sangat menderita pada waktu itu dan dalam jangka waktu yang lama setelahnya; ketebalan debu (vulkanis red.) yang turun bervariasi [...] dengan kedalaman mulai dari satu hingga dua kaki. Bencana ini tidak hanya menghancurkan tanaman pertanian, namun dalam beberapa tahun lamanya (masyarakat) tidak dapat menanam jagung, dan akibatnya terjadi kelaparan, penyakit dan pengurangan penduduk dalam jumlah yang banyak.” (Crawfurd, 1856 dalam Marrison, 1999)

Pada tahun 1826 M terjadi pemberontakan Raden Suryajaya dan Komaladewa Mas Panji bersama rakyat Sakra terhadap Kerajaan Karangasem yang berkuasa. Namun pemberontakan ini dapat dipadamkan, dimana masjid besar Sakra dibakar, Raden Suryajaya dibunuh dan Komaladewa Mas Panji bersama keluarganya ditahan di Cakranegara. Pemberontakan ini tampaknya disebabkan oleh dua hal yang berkaitan, yakni:
  1. Penderitaan yang dialami oleh masyarakat Sasak akibat bencana abu vulkanis dari Gunung Tambora yang meletus pada tahun 1815.
  2. Masyarakat Sasak yang sedang menderita merasa tidak diperhatikan oleh Kerajaan Karangasem (yang mungkin saat itu juga sedang kesulitan akibat bencana abu vulkanis) dan bahkan mungkin tetap menarik upeti dari kerajaan-kerajaan Sasak di Lombok.
Pada tahun 1843 Belanda mulai melirik Lombok untuk memperluas daerah monopolinya. Pada tahun yang sama Belanda melakukan perjanjian dengan Kerajaan Karangasem agar mengusir bangsa kulit putih selain Belanda yang melakukan transaksi perdagangan di Lombok. Saat itu Karangasem melakukan berdagangan komoditas pertanian dari Lombok dengan Inggris dan Denmark. Sebagai imbalannya Kerajaan Karangasem meminta perlindungan terhadap kapal dagang mereka, serta meminta Belanda untuk tidak mencampuri urusan administrasi di Lombok.

Pada tahun 1838-1839 terjadi perebutan kekuasaan wilayah Kerajaan Karangasem yang ada di Lombok. Perebutan kekuasaan tersebut akhirnya menempatkan Raja I Gusti Ngurah Ketut Karangasem berhasil berkuasa pada usia yang masih muda, dan mengalihkan pusat kerajaan dari Kembangkerang ke Mataram. Di tahun yang sama tiga orang Sasak yang baru pulang berhaji dihukum mati oleh kerajaan, mereka difitna telah melakukan pencurian. Hal ini menyebabkan pecahnya pemberontakan di Praya yang menyebabkan kekalahan telak orang Sasak. Mereka dipaksa untuk melucuti senjata-senjata mereka (tombak, pedang, keris, parang dll), dan orang Sasak dilarang untuk mengunjungi masjid. Namun kebijakan ini kemudian diperlonggar atas desakan salah satu istri sang raja yang berasal dari orang Sasak dan atas desakan asisten dan penasihat perdagangan luar negeri kerajaan, yakni seorang arab yang bernama Said Abdullah.

Tidak tahan dengan tekanan ini, pada tahun 1856 sebanyak empat ratus keluarga dari Lombok mengungsi ke Sumbawa. Dari tahun ke tahun pemberontakan yang dilakukan oleh orang Sasak semakin intensif, yang terbesar adalah pada tahun 1871 dan 1884 yang terjadi di Praya. Puncak dari semua ini adalah dimulai pada tahun 1891 M. Paad saat itu Puri Mengwi meminta bantuan Karangasem untuk merebut sebagian Gianyar yang saat itu dikuasai oleh Klungkung. Karangasem meminta untuk dikirimkan tambahan 500 prajurit Sasak dari Lombok, namun kapal mereka dihadang oleh pasukan dari Klungkung. Para prajurit tersebut terlunta-lunta dan kekurangan makanan sehingga terlalu lemah untuk berperang, dan nasib mereka pun tidak jelas. Raja meminta bantuan lagi dari orang Sasak, namun orang Sasak telah lelah dengan sikap kerajaan yang represif lalu melakukan pemberontakan di Praya dibawah pimpinan Tuanguru Bangkol. Mereka berhasil merangsek hingga ke Kediri, Lombok Barat, namun kemudian datang bantuan dari Karangasem, Bali sebanyak 1.500 orang, dan akhirnya berhasil mematahkan pemberontakan dan menahan 300 orang Sasak.

Akhirnya pada tanggal 7 Jumadilawal 1309 H yang bertepatan dengan 9 Desember 1891, tujuh pemimpin Sasak berkumpul di Kopang, Lombok Tengah untuk merumuskan surat yang ditujukan pada Residen Belanda di Bali. Mereka adalah Jero Mamik Mustiayaji dari Kopang, Raden Ratmawa dari Rarang, Mamik Bangkol dari Praya, Raden Wiraanom dari Pringgabaya, Mamik Mursasi dari Sakra, Raden Melaya dari Masbagik, dan Jero Ginawang dari Batu Kliang. Mereka menyampaikan keluhan terkait upeti, kerja paksa, perampasan harta, perbudakan, pelecehan terhadap perempuan, dan pembunuhan terahadap orang Sasak yang tidak mau membantu melawan pemberontakan. Para pemimpin sasak ini meminta bantuan Belanda. Akhirnya pda tahun 1893 Belanda mengirim pasukan KNIL dari Jawa (Semarang) dibawah pimpinan Jendral J.A. Vetter dan P.P.H. van Ham yang mendarat di Ampenan. Pasukan belanda ini berhasil dikalahkan, dimana Jenderal van Ham tewas. Akhirnya Belanda mengirimkan kekuatan kedua yang lebih besar dan berhasil meraih kemenangan. Raja Ratu Agung Gede Ngurah Karangasem menyerah dan diasingkan oleh Belanda ke Batavia. Namun para pangeran tidak mau menyerah dan melakukan puputan (perang sampai mati) di Puri Cakranegara, dimana banyak anak-anak serta perempuan yang mati di bunuh oleh tentara Kolonial Hindia Belanda dalam puputan itu. Akhirnya kekuasaan Karangasem di Lombok berakhir dan digantikan oleh kolonial Hindia Belanda pada tahun 1894 M.
Jendral Mayor PPH van Ham yang tewas dalam intervensi pertama Belanda ke Mataram tahun 1894
Anak Agung Ketut Karangasem, General-Major PPH van Ham (Perwakilan Pusat), General-Major JA Vetter (Komandan), Residen MC Dannenbargh, dan Gusti Jelantik (duduk) saat melakukan negosiasi pada tahun 1894
 
 Gambar pasukan KNIL yang berangkat dari Semarang menuju Lombok tahun 1894 (oleh J.P. Schomake)
 
Pasukan KNIL saat mendarat di Pantai Ampenan pada tahun 1894
 Pasukan KNIL saat akan menyerbu Puri Pagesangan, Cakranegara tahun 1894

Puri Pagesangan (Cakranegara) yang luluh lantah diserbu oleh Belanda (KNIL) pada tahun 1894

Raja Ratu Agung Gede Ngurah Karangasem saat berada di pengasingan Batavia
 

Sampai saat ini peninggalan zaman keemasan Kerajaan Karangasem di Lombok Barat dan Mataram masih terjaga dengan baik, diantaranya adalah Pura Meru, Pura Lingsar, Taman Mayura dan Taman Narmada. Menurut catatan para pengunjung dari Eropa pada saat itu, mereka kagum dengan keindahan tata kota Mataram dan Cakranegara. Mereka bahkan hampir tidak percaya kalau yang mengembangkan kota tersebut adalah bukan orang Eropa, dimana disepanjang jalan diterangi dengan lentera serta terdapat air mancur yang bisa dimanfaatkan untuk air minum oleh para pejalan kaki.

Zaman Penjajahan Hindia Belanda

Dibawah pemerintahan Belanda, administrasi di Pulau Lombok dibagi menjadi tiga yakni
  1. Lombok Barat dengan pusat di Mataram 
  2.  Lombok Tengah dengan pusat di Praya 
  3.  Lombok Timur dengan pusat di Selong
Lombok Barat mayoritas dihuni oleh orang Hindu Bali sedangkan orang Sasak sebagian besar terkonsentrasi di Lombok Tengah dan Lombok Timur. Di bawah pemerintahan Hindia Belanda, Praya dan Selong lebih dikembangkan daripada Mataram (yang memang telah lebih maju sebelumnya) dengan didirikannya kantor pemerintahan, lembaga pendidikan, bank dan pusat perdagangan. Sekolah formal yang pertama di Lombok dibangun di Selong, yang saat ini telah berubah menjadi SMP Negeri 1 Selong. Di bawah kekuasaan Hindia Belanda, Lombok menjadi bagian dari Residen Bali Dan Lombok dengan pusat di Singaraja.

Berada di bawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda ternyata tidak lebih baik dari Kerajaan Karangasem. Beberapa kali terjadi pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Alasan terjadinya pemberontakan ini secara umum ada dua, yakni:
  1. Penarikan pajak yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda secara semena-mena. Mereka turun ke kampung-kampung dan mengambil hasil pertanian rakyat yang mereka anggap sebagai pajak. Hal ini menyebabkan munculnya kemarahan dari orang Sasak. 
  2.  Penyebaran Kristen dan pembangunan gereja di Lombok dianggap sebagai perbuatan orang kafir yang dapat mengancam Islam di Lombok.
Beberapa pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda yang cukup terkenal adalah pemberontakan di daerah Gandor dan Pringgabaya, Lombok Timur. Sebagian besar pemberontakan yang dilakukan terhadap Hindia Belanda dipimpin oleh pemuka agama Islam yang disebut Tuanguru. Selain perlawanan dengan senjata, para tuanguru juga melakukan perlawanan secara kultural. Hal ini dilakukan dengan menolak budaya-budaya barat yang diperkenalkan oleh Pemerintah Hindia Belanda dan melakukan kajian-kajian agama Islam yang lebih intensif untuk membendung budaya Kristen.


Refrensi Teks: E. Marrison, Geoffrey, Sasak and Javanesse Literature of Lombok, Leiden: KITLV Press, 1999
Sumber Gambar: Tropenmuseum

1 komentar: