Langsung ke konten utama

Manusia Ke-7 Miliyar

Pada tanggal 31 Oktober 2011 seorang bayi perempuan yang lahir di Manila, ibukota Filipina, dipilih oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk secara simbolis mewakili manusia ke-7 miliyar di muka bumi. Untuk menandai tonggak populasi global ini, tanggal 31 Oktober dinamakan Hari Tujuh Miliyar, namun dengan adanya laporan satu miliyar orang yang mengalami kelaparan pada saat itu, debat pun terjadi seputar apakah bumi mampu mendukung kehidupan begitu banyak manusia.
Image result for the 7th billion baby
Sebelum abad ke-17, populasi dunia tumbuh begitu lambat, namun kemudian melesat begitu pesat setelah tahun 1850. Hal ini sebagian diakibatkan oleh pengurangan jumlah anak-anak yang mati di usia bayi, dan juga menurunnya angka kematian secara keseluruhan dimana teknologi pertanian baru meningkatkan persediaan makanan dan menurunkan risiko kelaparan. Pertumbuhan industrialisasi yang begitu pesat dan kemajuan di bidang obat-obatan dan kedokteran meningkatkan kesehatan and standar hidup masyarakat.
Image result for 1850 source:life
Memasuki tahun 1927, angka populasi dunia telah mencapai 2 miliyar. Pada awal abad ke-20, pertumbuhan populasi tetinggi terjadi di Negara-negara industri Barat yang kaya, namun pola ini lalu mulai berubah. Pertengahan abad menyaksikan banyak negara-negara Eropa mengalami jatuhnya angka kelahiran, disaat pertumbuhan penduduk meningkat drastis di wilayah Asia, Afrika dan Amerika Selatan yang relatif terbelakang akibat tingginya angka kelahiran. Pada tahun 1987, manusia ke-5 miliyar lahir; dan pada tahun 1999 lahirlah yang k3-6 miliyar. Butuh waktu 123 tahun bagi penduduk dunia untuk berkembang dari 1 miliyar menjadi 2 miliyar, namuan hanya butuh 12 tahun untuk membuat lompatan dari 6 miliyar ke 7 miliyar.
Image result for population 1999

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soekarno Hatta (Atas Nama Bangsa Indonesia)

Melihat sejarah, sebenarnya Soekarno dan Hatta tidak cocok secara pemikiran. Namun kenapa mereka berdua yang dijadikan simbol Bangsa Indonesia dalam mendeklarasikan kemerdekaannya? Ada yang mengatakan bahwa mereka berdua itu mewakili suara mayoritas yang ada di Indonesia yakni Orang Jawa dan Sumatra pada waktu itu. Ada juga yang berpendapat bahwa kemampuan Soekarno dalam berpidato sangat cocok dipasangkan dengan kedalaman berfikir Hatta. Mereka berdua memiliki latar belakang yang berbeda. Sebelum kemerdekaan, Soekarno banyak menghabiskan waktunya di Indonesia dengan membaca tulisan-tulisan yang membakar semangat muda dan semangat revolusi. Soekarno banyak bersentuhan dengan hal-hal yang riil di dalam masyarakat terjajah, sehingga dia seperti merasakan langsung bagaimana penderitaan rakyat saat itu. Kombinasi kedua hal di atas membentuk karakter Soekarno yang menggebu-gebu. Ide-ide revolusioner yang dia baca kemudian disampaikan kepada rakyat Indonesia. Soekarno ingin agar semangat in...

Dinamika Global dalam Negara Indonesia

Berdirinya Indonesia tidak bisa terlepas dari islamisme, komunisme dan nasionalisme global, yang sangat mempengaruhi Indonesia saat itu. Gagasan Pan-Islamisme muncul dari Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Fahrul Razi setelah runtuhnya kekaisaran Ottoman Turki akibat kekalahannya pada Perang Dunia Pertama. Revolusi Bolshevik terjadi di Rusia, yang meruntuhkan Kerajaan Rusia dan memunculkan negara komunis pertama di dunia, USSR. Lenin berhasil mengaktualisasikan gagasan Karl Marx dalam bentuk pergerakan kaum proletar. Nasionalisme China dibawah inisiatif dr. Sun Yat Sen dan bangkitnya negara industri baru Jepang membangkitkan semangat bangsa-bangsa di Asia, dimana selama dua abad terakhir berada di bawah bayang-bayang bangsa Eropa. Masing-masing gagasan ini memiliki penganut yang kuat di Indonesia saat itu. Islamisme didukung oleh "Serekat Islam". Komunisme didukung oleh ISDV, yang tadinya merupakan bagian dari "Serekat Islam", dan kemudian berdiri sendiri men...

Ketidakmerataan (Inequality)

Sudah bukan hal yang mengherankan lagi kalau Indonesia mengalami ketidakmerataan perekonomian antara Kawasan Barat Indonesia dengan Kawasan Timur Indonesia , terutama antara Jawa dengan Luar Jawa . Ketidakmerataan ini sepertinya sudah dianggap wajar oleh setiap rakyat indonesia, dan bahkan juga oleh mereka yang memiliki legitimasi untuk mengatur negara ini. Padahal ketidakmerataan ekonomi ini menyebabkan terjadinya ketidakmerataan hal-hal yang lain, diantaranya adalah ketidakmerataan penduduk, ketidakmerataan pengetahuan dan ketidakmerataan infrastruktur. Padahal sumberdaya alam yang dimiliki Kawasan Timur Indonesia tidak kalah dengan sumberdaya alam yang dimiliki Kawasan Barat Indonesia, dan sama-sama dieksploitasi. Namun hasil eksploitasi tersebut lebih banyak diserap oleh pusat dengan tujuan untuk disebarkan secara merata pada daerah-daerah yang tidak memiliki sumber daya alam. Namun bagaimanapun pusat merencanakan dan melaksanakan program pemerataan tersebut, tetap saja terjadi k...