Selama awal abad ke-20, banyak negara yang mengimpor sejumlah besar makanan yang tidak mampu mereka tanam sendiri, supaya dapat memenuhi kebutuhan penduduk yang terus meningkat. Sebagai contoh, Inggris mengimpor 55 juta ton makanan setiap tahunnya.
Pada awal 1940an, Meksiko mengimpor separuh gandumnya, dan penduduknya tumbuh begitu cepat. Meksiko akhirnya meminta keahlian teknis dari Amerika Serikat untuk meningkatkan produksi gandumnya. Pada tahun 1944, dengan dukungan finansial American Rockefeller Foundation, sekelompok ilmuwan AS, termasuk ahli biokimia Norman Borlaug, memulai metode penelitian untuk mengembangkan bibit gandum yang tahan terhadap penyakit dan dengan ukuran yang relatif pendek untuk mengurangi kegagalan akibat angin. Percobaan di Meksiko sangat berhasil; akhirnya pada tahun 1956 negara mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak lagi mengimpor gandum dan jagung. Keberhasilan ini melahirkan apa yang dinamakan Revolusi Hijau, yakni berkembangnya teknologi pertanian modern baru pada tahun 1960an dan 70an yang meningkatkan produksi pangan secara drastis di seluruh dunia. Revolusi Hijau sangat menguntungkan bagi negara-negara seperti Filipina, Bangladesh, Sri Lanka, China, Indonesia, Kenya, Iran, Thailand dan Turki.
Ilmuwan India secara khusus mengikuti jejak Borlaug dan rekan-rekannya. Pada pertengahan 1960an, India dilanda oleh dua kemarau secara berturut-turut, yang menyebabkan kebutuhan impor pangan yang sangat besar dari Amerika Serikat. Pada tahun 1964, India dan Pakistan mulai mengimpor dan menguji gandum varietas setengah-kerdil dari Meksiko, dan hasilnya menjanjikan: pada musim semi 1969, panen mereka lebih banyak dari semua panen yang pernah terjadi sebelumnya di Asia Selatan, meskipun sedang terjadi tahun kemarau.
Nagara Kertagama adalah sebuah kitab yang menceritakan risalah Kerajaan Majapahit. Kitab ini ditulis dalam daun lontar oleh Prapanca sekitar tahun 1365 M. Nama lain kitab ini adalah Deca Warnana . Naskah asli Nagara Kertagama saat ini sudah tidak ada lagi atau belum ditemukan. Naskah yang ada saat ini ditemukan oleh Dr Brandes pada tahun 1894 di Puri Cakranegara, Lombok. Naskah Nagara Kertagama yang ditemukan ini ditulis menggunakan aksara bali. Pada tahun 1902 Dr Brandes menerbitkan Nagara Kertagama yang ditulis dalam aksara bali. Pada tahun 1914 Dr Kern menyalinnya ke dalam huruf latin dan menerjemahkannya. Pada tahun 1919 Dr N.J. Krom menerbitulangkannya serta menambahkan banyak komentar agar mudah dimengerti. Pada tahun 1948 Dr. Th. Pigeaud ditugasi oleh KITLV menyalin Nagara Kertagama yang kemudian diterbitkan menjadi lima jilid. (sumber: Parakitri T. Simbolon, Menjadi Indonesia , Penerbit Buku Kompas, 2006)
Komentar
Posting Komentar